Wednesday, September 25, 2013
Adab-Adab Wuquf di Arafah
Wuquf di Arafah adalah rukun haji yang tak dapat ditinggalkan oleh
semua jema'ah haji. Wuquf ini merupakan puncak dari ibadah haji. Di
tempat inilah puncak permohonan semua jemaah haji agar semua rangkaian
manasik hajinya diterima Allah swt, semua dosa-dosanya diampuni, dan
semua hajatnya diperkenankan oleh Allah swt. Bahkan di dalam hadis-
hadis yang shahih jema'ah haji sangat dianjurkan memohonkan saudara-
saudaranya yang seiman, dengan menyebutkan nama-namanya.
Di Arafah dan dalam perjalanan menuju Masy'aril haram Allah swt
memerintahkan semua jema'ah haji memperbanyak zikir kepada-Nya. Allah
swt berfirman:
"Tidaklah dosa bagimu untuk mencari karunia Allah dari Tuhanmu. Maka
apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di
Masy'aril haram, dan sebutkan nama Allah sebagaimana yang telah
dibimbingkan kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar
termasuk orang-orang yang sesat." (Al-Baqarah: 198)
Padang Arafah adalah tempat semua jema'ah melakukan kesyaksian di
hadapan Allah swt sebelum melakukan kesyaksian di hari kiamat.
Kesyaksian inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah swt "Hari itu
manusia dikumpulkan dan pada hari itu manusia disaksikan." (Huud: 103)
dan firman Allah "Yang menyaksikan dan disyaksikan" (Al-Buruj: 3),
kata Imam Ja'far Ash-Shadiq sa ( Al-Wasail 13: 548)
Dalam suatu hadis dikatakan bahwa jika manusia memiliki dosa-dosa yang
tak terampuni di malam Al-Qadar, maka ia tidak akan diampuni pada
bulan-bulan sesudahnya kecuali ia melakukan kesyaksian di Arafah.
Berikut ini saya kutipkan Adab-adab wuquf di Arafah dari kitab Nubdzah
min Asraril Hajj, adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada
keluarga dan sahabatnya, antara lain:
1. Membaca doa-doa yang ma'tsur, antara lain:
اَللَّهُمَّ اِنِّي عَبْدُكَ فَلاَ تَجْعَلْنِي مِنْ اَخْيَبِ وَفْدِكَ،
وَارْحَمْ مَسِيْرِي اِلَيْكَ مِنَ الْفَجِّ الْعَمِيْقِ. اَللَّهُمَّ
رَبَّ الْمَشَاعِرِ كُلِّهَا فُكَّ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ، وَاَوْسِعْ
عَلَيَّ مِنْ رِزْقِكَ الْحَلاَلِ، وَادْرَأْ عَنِّي شَرَّ فَسَقَةِ
الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ. اَللَّهُمَّ لاَ تَمْكُرْبِي وَلاَتَخْدَعْنِي
وَلاَ تَسْـتَدْرِجْنِي. اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ بِحَوْلِكَ
وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ وَمِنْكَ وَفَضْلِكَ يَا اَسْمَعَ السَّامِعِيْنَ
يَا اَبْصَرَ النَّاظِرِيْنَ يَا اَسْرَعَ الْحَاسِبِيْنَ يَااَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ، اَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَاَنْ
تَرْزُقَـنِي خَيْرَ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ.
Allâhumma inni 'abduka falâ taj'alnî min akhyabi wafdika, warham
masîrî ilayka minal fajjil 'amîq. Allâhumma Rabbal masyâ'iri kullihâ
fukka raqabatî minan nari, wa awsi' 'alayya min rizqikalhalâli, wadra'
'annî syarra fasaqatil jinni wal insi. Allâhumma lâ tamkurbî walâ
takhda'nî walâ tastadrijnî. Allâhumma innî as-aluka bihawlika wa
jûdika wa karamika wa mannika wa fadhlika yâ asma'as sâmi'ina yâ
absharan nâzhirîna yâ asra'al hâsibîna yâ arhamar râhimîna, an
tushalliya 'alâ Muhammadin wa âli Muhammad, wa an tarzuqanî khayrad
dun-ya wal âkhirah.
Ya Allah, aku adalah hamba-Mu,
jangan jadikan aku tamu-Mu yang paling sia-sia,
sayangi perjalananku menuju-Mu dari tempat yang jauh.
Ya Allah, Pemelihara seluruh Masy'ar (tempat ibadah haji),
selamatkan aku dari api neraka,
luaskan bagiku rizki-Mu yang halal,
lindungi aku dari keburukan jin dan manusia yang fasik.
Ya Allah, jangan makari aku,
jangan tipudaya aku, jangan murkai aku.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kekuatan-Mu, kedermawanan dan
kemuliaan-Mu, karunia dan anugerah-Mu
wahai Yang Maha Mendengar dari semua yang mendengar,
wahai Yang Maha Melihat dari semua yang melihat,
wahai Yang Paling cepat hisab-Nya,
wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi,
sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluargaMuhammad,
anugerahkan padaku kebaikan dunia dan akhirat.
2. Kemudian mohonlah hajat Anda kepada Allah swt dengan bahasa Anda
sendiri sambil mengangkat kedua tangan. Kemudian bacalah doa berikut
ini:
اَللَّهُمَّ حَاجَتِي اِلَيْكَ الَّتِي اِنْ اَعْطَيْتَنِـيْهَا لَمْ
يَضُرَّنِي مَامَنَعْتَ، وَاِنْ مَنَعْتَنِيْهَا لَمْ يَنْفَعْنِي
مَااَعْطَيْتَ، اَسْأَلُكَ خَلاَصَ رَقَبَتِي مِنَ النَّارِ. اَللَّهُمَّ
اِنِّي عَبْدُكَ وَمِلْكُ يَدِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، وَاَجَلِي
بِعِلْمِكَ؛ أَسْأَلُكَ اَنْ تُوَفِّقَنِي لِمَا يُرْضِيْكَ عَنِّي،
وَاَنْ تُسَلِّمَ مِنِّي مَنَاسِكِي الَّتِي اَرَيْتَهَا خَلِيْلَكَ
إِبْرَاهِيْمَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ، وَدَلَلْتَ عَلَيْهَا نَبِيَّكَ
مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِي
مِمَّنْ رَضِيْتَ عَمَلَهُ، وَاَطَلْتَ عُمْرَهُ، وَاَحْيَيْتَهُ بَعْدَ
الْمَوْتِ حَيَاةً طَيِّبَةً.
Allâhumma hâjatî ilaykal latî in a'thaytanîhâ lam yadhurranî mâ
mana'ta, wa in mana'tanîhâ lam yanfa'nî mâ a'thayta, as-aluka khalâsha
raqabatî minan nâri. Allâhumma innî 'abduka wa milku yadika, nashiyatî
biyadika, wa ajalî bi'ilmika, as-aluka an tuwaffiqanî _ima yurdhîka
'annî, wa an tusallima minnî manâsikîl latî araytahâ khalîlaka
îbrâhîma shalawâtuka 'alayhi, wa dalalta 'alayhâ nabiyyaka Muhammadan
shallallâhu 'alayhi wa âlihi. Allâhummaj'alnî mimman radhîta 'amalahu,
wa athalta 'umrahu, wa ahyaytahu ba'dal mawti hayâtan thayyibah.
Ya Allah, hajatku kepada-Mu adalah hajat yang bila Kau berikan
kepadaku tidak membahayakanku apa yang Kau tahan, dan bila Kau tahan
ia dariku tidak bermanfaat bagiku apa yang Kau berikan. Aku memohon
kepada-Mu keselamatan diriku dari api neraka.
Ya Allah, aku adalah hamba-Mu dan milik-Mu, ubun-ubunku ada di tangan-
Mu, dan ajalku dalam pengetahuan-Mu.
Aku memohon kepada-Mu,
bimbinglah aku pada apa yang Kau ridhai,
tuntunlah aku pada manasik sebagiamana yang Kau perlihatkan kepada
kekasih-Mu Ibrahim (as) dan Kau tunjukkan kepada Nabi-Mu Muhammad
(saw).
Ya Allah, jadikan aku orang yang Kau ridhai amalnya, yang Kau
panjangkan umurnya, dan yang Kau hidupkan setelah kematian dengan
kehidupan yang baik.
3. Membaca membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada Imam
Ali bin Abi
Thalib (sa). Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib
(sa): "Ingatlah, aku
ajarkan kepadamu doa pada hari Arafah, doa para Nabi sebelumku,
yaitu:
لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ
حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَـدِيْرٌ. اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كَالَّذِي تَقُوْلُ وَخَيْرًا
مِمَّا نَقُوْلُ وَفَوْقَ مَا يَقُوْلُ الْقَائِلُوْنَ. اَللَّهُمَّ لَكَ
صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي، وَلَكَ تُرَاثِي وَبِكَ
حَوْلِي وَقُوَّتِي. اَللَّهُمَّ اِنِّي اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ
وَمِنْ وَسَاوِسِ الصُّدُوْرِ وَمِنْ شَتَاتِ اْلأَمْرِ وَمِنْ عَذَابِ
الْقَبْرِ. اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْأَلُكَ خَيْرَ الرِّيَاحِ، وَاَعُوْذُ
بِكَ مِنْ شَرِّ مَاتَجِيءُ بِهِ الرِّيَاحُ، فَاَسْأَلُكَ خَيْرَ
اللَّيْلِ وَخَيْرَ النَّهَارِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبي نُوْرًا،
وَفِي سَمْعِي نُوْرًا، وَفِي بَصَرِي نُوْرًا، وَفِي لَحْمِي وَدَمِي
وَعِظَامِي وَعُرُوْقِي وَمَقْعَدِي وَمَقَامِي وَمَدْخَلِي وَمَخْـرَجِي
نُوْرًا، وَاَعْظِمْ لِي نُوْرًا يَارَبِّ يَوْمَ اَلْقَاكَ إِنَّكَ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Lâ ilâha illallahu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu,
yuhyî wa yumîtu, wa Huwa hayyun lâ yamûtu, biyadihil khayru, wa Huwa
'alâ kulli syay-in qadîr. Allâhumma lakal hamdu kalladzî taqûlu wa
khayran mimmâ naqûlu wa fawqa mâ yaqûlul qâilûna. Allâhumma laka
shalâtî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî, wa laka turatsî wa bika hawlî
wa minka quwwatî. Allâhumma innî a'udzu bika minal faqri wa min
wasâwisish shudûri wa min syatâtil amri wa min 'adzâbil qabri.
Allâhumma innî as-aluka khayrar riyahi, wa a'udzu bika min syarri mâ
tajîu bihir riyâhu, fa as-aluka khayral layli wa khayran nahâri.
Allâhummaj'al fi qalbi nûran, wa fî sam'î nûran, wa fî basharî nûran,
wa fî lahmî wa dâmî wa 'izhâmî wa 'ûrûqî wa maq'adî wa maqâmî wa
madkhalî wa makhrajî nuran, wa a'zhim lî nûran ya Rabbi yawma alqâka
innaka 'alâ kulli syay-in qadîr.
Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya.
Bagi-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala puji.
Dia Yang Menghidupkan dan Dia Yang Mematikan.
Dialah Yang Hidup dan tidak mati.
Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, bagi-Mu segala puji
seperti yang Kau firmankan, kebaikan yang kami ucapkan, dan di atas
apa yang orang-orang ucapkan.
Ya Allah, bagi-Mu shalatku dan ibadahku, hidupku dan
matiku; bagi-Mu peninggalanku, dengan-Mu dayaku dan dari-Mu
kekuatanku.
Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kefakiran, keraguan hati,
bencana persoalan, dan dari siksa kubur.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan angin, dan aku berlindung
dengan-Mu dari keburukan apa yang datang bersama angin; aku memohon
kepada-Mu kebaikan malam dan kebaikan siang.
Ya Allah, jadikan dalam hatiku cahaya, dalam pendengaranku cahaya,
dalam pandanganku cahaya, pada dagingku dan darahku cahaya, tulangku
dan urat-uratku cahaya, tempat dudukku dan tempat berdiriku cahaya,
tempat masukku dan tempat keluarku cahaya, dan besarkan cahaya itu
bagiku ya Rabbi pada hari aku menjumpai-Mu, sesungguhnya Engkau Maha
Kuasa atas segala sesuatu.
(At-Tahdzib 5: 183)
4. Perbanyaklah bersedekah pada hari ini, dan menghadaplah ke kiblat
lalu bacalah zikir berikut (100 kali):
سُبْحَانَ اللهِ وَاللهُ اَكْبَرُ مَاشَآءَ اللهُ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ
بِاللهِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ
لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ
لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
Subhânallâhi wallâhu akbar wa mâ syâallâhu lâ quwwata illâ billâhi.
Asyhadu allâ ilâha illallâh wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa
lahul hamdu yuhyî wa yumîtu, wa Huwa Hayyun lâ yamûtu, biyadihil
khayru, wa Huwa 'alâ kulli syay-in qadîr.
Mahasuci Allah, Allah Maha Besar, apa yang dikehendaki Allah, tiada
kekuatan kecuali dengan Allah. Aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah
Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya segala kekuasaan dan
bagi-nya segala puji, Dia Yang Menghidupkan dan Mematikan, Dialah Yang
Hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu.
Oleh: Syamsuri Rifai
Labels:
mesti tahu
Monday, September 23, 2013
10 JENIS UBAT DARI LIMAU KASTURI
1 . ubat batuk
limau+kicap+garam = minom setiap pagi and malam …batuk akan beransur pulih
2 . ubat demam
Petiklah 2-4 genggam daun limau nipis. Rebus dengan 2 hingga 4 gelas air. Gunakan air rebusan ini untuk menuam pesakit yang demam. Caranya dengan membasuh kain pada air rebusan dan diperas, lalu ditempelkan pada dahi pesakit.
3. ubat ketiak
Siapkan limau nipis yang dicampur kapur sirih. Setelah mandi, sapukan campuran ini pada ketiak dan biarkan beberapa waktu sebelum dibasuh. Lakukan pagi dan petang.
4 . ubat pening kepala
Ambil sebiji limau kasturi dan potong sedikit di bahagian atasnya. Kemudian, picit kulit limau kasturi tadi sehingga cecairnya keluar. Pastikan anda menghalakan cecair tu ke arah hidung semasa ia terpancut.
5 . ubat lelah
Ambil sesudu madu. Kalau boleh madu asli. Kemudian, campurkan dengan 5 titik jus limau kasturi.Minumlah campuran madu dan jus limau kasturi tadi.Anda boleh meminumnya pada bila-bila masa walaupun ketika tak mengalamilelah. Tapi cukuplah anda mengamalkan cara ini seminggu sekali.
6 . ubat kurus
Perahan limau nipis yang dicampur dengan teh tanpa gula dan diminum setiap hari. Sebaik-baiknya biarlah teh yang diminum itu teh panas suam, kesannya lebih cepat. Amalkan meminum air ini dan insya-Allah perut anda yang buncit akan menjadi kempis dan kemas semula.
7 . ubat kelemumur
Biasakan mencuci rambut dengan beberapa helai daun rambutan yang diramas bersama setengah cawan air hingga mengeluarkan lendir. Kemudian bancuh sebati lendir daun rambutan bersama dua cawan santan dan sebiji air limau nipis. Lumur pada seluruh kepala dan balut menggunakan tuala lembap. Biar sebentar sebelum dibilas bersih, Lakukan seminggu sekali.
8 . ubat hilang minyak pada baju
Perahkan sebiji limau kasturi ke dalam piring.Campurkan perahan limau kasturi tadi dengan sedikit garam.Kemudian, gosokkan campuran di atas pada bahagian pakaian yang terkena minyak.Lepas dah gosok, biarkannya selama 5 hingga 10 minit. Kesan minyak tu akan hilang nanti.Akhir sekali, barulah anda basuh pakaian tadi bersama dengan pakaian lain macam biasa.
9 . ubat wangi rambut
Ambil beberapa biji limau nipis & hiris2kan. Kemudian gosokkan ke seluruh kepala. Biarkan beberapa minit, kemudian barulah cuci hingga bersih. Selain mewangikan rambut, limau nipis juga boleh menghilangkan rasa pening & menyejukkan kepala.
10 . ubat kilatkan cermin mata
Cermin mata selalu kabur warna kerana terkena peluh disekitar mata atau hidung. Cuba petua ini bagi mengatasi cermin mata anda jelas lebih lama. Cuci & gosokkan sedikit limau pada kacanya. Bilas bersih2 kemudian lap dgn kain bersih atau tisu. Hasilnya cermin mata lebih kuat & jelas lebih lama.sumber: BB Mania World
Labels:
Subhanallah
Sunday, September 22, 2013
Setiap Manusia Akan Merasainya
Keadaan di tanah perkuburan Wak-wak yang biasanya lengang kini
dihadiri pengunjung. Nampaknya ada penghuni baru yang menghuni tanah
perkuburan ini. Selepas selesai mengkebumikan jenazah Abdullah yang
baru meninggal semalam, di bahagian atas tanah perkuburan Wak-wak,
penduduk kampung yang terlibat pun mula mengatur langkah menuruni
anak tangga ke kaki bukit. Ini kerana, tanah perkuburan Wak-wak
terletak dikawasan bukit.
"Macam banyak pula orang meninggal sekarang ni kan Pak Man."
Tanya Amin kepada lelaki yang sedang berjalan berdekatannya. Pada
wajahnya lelaki itu jelas kelihatan jalur-jalur usia yang sudah
semakin lanjut.
"Ya, Min." Jawab Pak Man yang sedang memikul cangkul yang digunakan untuk menggali kubur tadi, di bahunya. "Sudah takdir Allah s.w.t, kita sebagai hamba-Nya kena terima ketentuan-Nya."
"Ya Pak Man." Amin dengan nada yang muram. Pengalaman
pertama kali menggali kubur, membuatkannya berfikir dan merenung
tentang nasib dirinya. Hari ini dia menggali kubur untuk orang lain,
mungkin esok, orang lain pula akan menggali kubur untuknya.
Aziz yang berjalan di belakang Pak Man dan Amin mempercepatkan
sedikit langkahnya. Ingin turut serta dalam perbualan Amin dan Pak
Man.
"Terkenal juga abang Abdullah ni ya, Pak Man." Kata Aziz. Kagum melihat orang ramai yang pergi ke pengkebumian Abdullah. "Ramai sangat orang, lain daripada biasa. Tidak pernah saya lihat depan mata ramai orang ziarah pengkebumian macam ni."
"Ya. Ramai itu memang ramai. Tapi sayangnya, tidak ramai yang dapat mengambil iktibar daripadanya." Pak Man melontarkan kata-katanya. Kata-kata yang diluahkan daripada pengalaman yang sudah lama terkumpul.
"Maksud Pak Man?" Amin mengerut dahi. Bajunya yang dibasahi peluh ketika menggali kubur tadi sudah semakin kering.
"Ramai daripada kita melihat orang meninggal dunia, menziarahi
kematian. Tapi dia seakan-akan lupa dengan kematian. Melihat orang
lain meninggal dunia, tidak membuatkannya terfikir atau merenung
untuk bersedia menghadapi kematian dirinya. Amalnya tidak bertambah,
dia tetap hanyut dengan dunia." Jawab Pak Man sambil tertunduk.
Kelihatan daripada raut wajah Pak Man kebimbangan dan kegusaran.
Bimbang memikirkan nasib dirinya yang sudah semakin tua. Tentu ajal
sudah semakin dekat dengannya.
"Rasulullah s.a.w pernah bersabda bahawa apabila mati seorang
anak Adam, maka akan terputuslah segala amalannya melainkan tiga
perkara, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat yang diajarkan kepada
orang lain, lalu diamalkan, dan doa seorang anak yang soleh." Amin menyebutkan mahfum sebuah hadis shahih yang dihafal olehnya.
"Di dunia inilah sahaja tempat kita beramal. Selepas kehidupan
ini, tidak ada lagi amalan yang kita boleh lakukan untuk bekalan
kita menuju akhirat. Kita hidup di dunia ini bukan suka-suka, tapi
ada tujuannya. Untuk beribadah kepada Allah s.w.t. Hidup kita ini
umpama sebuah perjalanan jauh yang melalui beberapa persinggahan." Pak Man meluahkan kata-kata renungan dan nasihat. "Sekarang
ini, kita sedang berada di dunia. Salah satu daripada persinggahan
untuk mengumpul bekalan dalam menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Amat jauh. Apabila kita telah pergi perhentian seterusnya, maka tiada
cara lagi untuk berundur semula."
Amin dan Aziz mendengar dengan teliti, cuba menyelami dan menghayati pengertian yang tersurat dan tersirat dalam ucapan Pak Man.
"Kalau kita tidak menggunakan peluang yang kita ada ini dengan
sebaik-baiknnya, maka akan rugilah kita. Benar-benar akan rugi." Pak Man menambah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aziz dan Amin diam mendengar kata-kata itu. Pak Man sememangnya
seorang yang banyak berfikir dan banyak hikmah. Sesuai dengan usianya
yang sudah semakin lanjut. Aziz dan Amin masing-masing merenung
diri. Adakah mereka termasuk di kalangan orang yang lalai yang
disebutkan Pak Man. Lupa kepada kematian dan leka dengan dunia.
"Pak Man ini sudah semakin tua..." Keluh Pak Man, tetapi
dia tidak menghabiskan kata-katanya. Suaranya kedengaran sebak. Dia
terdiam, tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya. Terasa berat.
"Ajal manusia itu tidak tentu Pak Man. Tiada siapa yang tahu
bila ajal akan menjemput. Muda atau tua bukan penentunya. Bayi dalam
kandungan pun boleh meninggal." Kata Amin sebagai peringatan bersama.
"Ya, betul juga." Pak Man mengangkat wajahnya memandang ke langit yang kebiru-biruan. "Hidup
di dunia ini, kita tidak boleh leka. Sebagaimana kita buat persiapan
untuk dunia kita pada esok hari, maka sebegitulah juga kita perlu
berusaha untuk akhirat kita seandainya kita mati esok."
"Sebagaimana kata Rasulullah s.a.w, berusahalah untuk dunia
kamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan berusahalah untuk
akhirat kamu seolah-olah kamu akan mati esok." Aziz menyebutkan sebuah hadis.
"Eh, Aziz, itu bukan hadis Nabi s.a.w lah!" Amin berkata pantas.
"Oh, betulkah?" Aziz mengerut dahi. Ini kali pertama dia mendengar orang menafikan apa yang disebutkannya tadi adalah hadis. "Tapi kenapa banyak orang cakap macam tu?"
"Banyak orang cakap tak semestinya betul. Perkataan itu memang
terkenal dalam masyarakat, tapi ianya bukan hadis Nabi s.a.w. Syeikh
Al-Albani menyebutkan ianya tidak mempunyai asal, yakni hadis palsu
dalam kitabnya, Silsilah Ahadith Adh-Dhaifah wal Maudhu'ah!" Jelas Amin dengan yakin. "Hadis palsu tu maksudnya hadis yang direka-reka lalu disandarkan kepada Rasulullah s.a.w secara dusta."
Syeikh Al-Albani adalah seorang ulama hadis kontemporari yang
berasal daripada Albania. Beliau lahir pada tahun 1914 dan meninggal
dunia pada tahun 1999. Pernah menjadi tenaga pengajar dalam bidang
hadis di Universiti Islam Madinah selama tiga tahun, ketua Dirasah
Islamiyah dan Fakulti Pasca Sarjana di sebuah perguruan tinggi di
Jordan.
Beliau telah mendapat anugerah penghargaan tertinggi daripada Arab
Saudi atas jasa-jasanya berupa King Faisal Foundation. Beliau
mempunyai banyak karya yang bermanfaat kepada umat Islam, seperti
Silsilah Ahadith Ash-Shahihah, Silsilah Ahadith Adh-Dhaifah wal
Maudhu'ah, Tamam Al-Minnah Fi At-Ta'liq 'Ala Fiqhus Sunnah dan banyak
lagi.
"Owh, jadi hadis palsu ni tak boleh gunakan?"
"Ya." Jawab Amin. "Nabi Muhammad s.a.w mengancam,
barang siapa yang berdusta atas nama baginda s.a.w dengan sengaja,
maka dia telah menyediakan tempat duduk bagi dirinya dalam Neraka!"
Aziz menelan air liur mendengar kata-kata Amin. Terkejut.
"Jadi, macam mana dengan aku?" Tanya Aziz dengan nada yang bimbang.
"Dulu kau tak tahu, tak apalah. Sekarang kau dah tahu,
janganlah gunakan kata-kata tu lagi. Kalau kau guna pun, jangan
katakan ianya adalah hadis daripada Rasulullah s.a.w." Amin cuba menenangkan kebimbangan jelas tergambar di wajah Aziz.
Aziz menarik nafas lega mendengar pernyataan tersebut. Pak Man
tersenyum mendengar perbualan Amin dan Aziz. Kepandaian dan
kecerdasan anak muda yang bernama Amin itu cukup mengagumkannya.
Meskipun baru berumur 20 tahun lebih, tetapi dia mempunyai
pengetahuan yang baik dalam agama. Pak Man, Amin dan Aziz sudah
semakin jauh meninggalkan perkuburan. Sepanjang perjalananm balik ke
rumah masing-masing, mata mereka disajikan dengan kehijauan yang
menyenangkan mata.
"Setiap yang hidup pasti akan merasai mati..." (Surah Al-Anbiya': 35)
Sumber: Artikel iluvislam.com
Labels:
al kisah...
Thursday, September 19, 2013
Ujian Allah : Sejauh Mana Keredhaan Kita?
Ujian Allah iaitu suatu perkara yang telah ditentukan oleh Allah SWT kepada sesiapa saja yang selagi dinamakan manusia (terutama orang-orang yang beriman kepada Allah), maka dia tidak akan sunyi dari dikenakan ujian, cabaran dan rintangan dari Allah SWT. Dalam kehidupan seharian ini, ujian Allah ini bergantung sejauh mana kecintaan kita terhadap yang Maha Pencipta.
Ada orang di uji dengan penyakit, ada yang terpaksa memelihara anak-anak yang cacat, ada yang suami penagih dadah, isteri yang ditinggalkan kerana perempuan lain, panas baran yang menyiksa isteri, malah ujian rumahtangga ini yang paling common sekali. Ada yang masih keci sudah diuji, dimana ibu bapa meninggal dunia, dirogol keluarga sendiri, diseksa ibu tiri dan macam-macam lagi di luar sana.
Andai dirimu di uji dengan kesusahan hidup, tetapkan hatimu dan bersangka baiklah (husnu dzon) pada Allah SWT. Itu tandanya Allah rindu untuk mendengar luahan bicaramu. Allah amat suka mendengar bisikan-bisikan hati yang rindu kasih sayangNya.
Sedang dirimu di uji, Allah sebenarnya ingin memeliharamu dari sejuta keburukan. Ingatlah orang-orang yang dikasihi Allah SWT. Setiap kesusahan itu akan diakhiri dengan kebaikan dan kemuliaan. Maka hendaklah engkau lapangkan dadamu dan bersyukur penuh redha agar kebaikan dunia akhirat itu menjadi penghuni hatimu. Moga kedukaan itu berganti dengan ketenangan, redha dan ikhlas dalam setiap apa yang berlaku lantaran husno dzonnya engkau pada ALLAH SWT.
Ayat 2 Surah al-Ankabut, yang bermaksud,
"Adakah manusia itu mengira, bahwa Kami akan membiarkan sahaja mereka berkata: Kami telah beriman, sedangkan mereka belum diuji oleh Allah swt."
Suatu peristiwa bilamana Saad bin Abi Waqash bertanya kepada Nabi saw, "Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling teruk kena uji?"...Lalu jawab Rasulullah saw, "Yang paling teruk kena uji ialah para nabi dan para rasul, kemudiannya golongan yang mengikut para nabi selepas zaman nabi (tabiin) dan kemudiannya golongan selepas tabiin yang mengikut para tabiin."
Allah s.w.t. berfirman "Tiadalah terjadi sesuatu bencana itu melainkan dengan kehendak Allah, dan siapa yang percaya kepada Allah nescaya dipimpin Allah hatinya" (Surah At-Taghabun:11)
Allah s.w.t. berfirman "Orang-orang yang beriman itu akan menjadi tenteram hati mereka. Ingatlah dengan mengingati Allah itu hati akan menjadi tenteram" (Surah Ar-Rad:28)
Oleh itu dengan mengenal diri, seseorang akan tahu dimana kelemahan dan kelebihan yang ada pada dirinya. Dia juga akan tahu, bagaimana untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu ibadahnya kepada Allah SWT. Nabi SAW pernah berkata "Sampaikan sesuatu, walaupun hanya dengan satu ayat"
sumber: Artikel iluvislam.com
Labels:
Renungan
Subscribe to:
Posts (Atom)



